Mengapa Gen Z Susah Beli Rumah
Salah satu alasan Gen Z susah beli rumah utama adalah harga properti yang terus meningkat setiap tahun. Kenaikan harga ini tidak sebanding dengan pendapatan sehingga membuat proses pembelian rumah menjadi lebih berat.
Rata-rata pendapatan Gen Z relatif rendah per bulannya menjadi salah satu faktor utama yang membuat mereka sulit memiliki rumah, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Selain faktor-faktor tersebut, terdapat beberapa alasan lain yang membuat Gen Z kesulitan membeli rumah. Berikut penjelasannya:
1. Harga Properti yang Terus Naik
Meskipun sempat menurun akibat pandemi pada 2020-2021, harga properti kembali mengalami kenaikan hingga 2022 dan berlanjut sampai 2024. Kondisi ini memperlebar kesenjangan antara harga properti dan pendapatan Generasi Z maupun generasi muda lainnya.
Meski pendapatan Gen Z relatif stabil, kenaikan harga yang tidak seimbang membuat rumah semakin sulit dijangkau. Ini menunjukkan bahwa tantangan membeli rumah tidak hanya berasal dari pendapatan terbatas, tetapi juga dinamika pasar properti.
2. Belum Mampu Membayar Cicilan KPR
KPR masih menjadi salah satu cara paling memungkinkan bagi generasi muda untuk memiliki rumah. Namun, survei menunjukkan bahwa 10,49% milenial belum mampu membayar cicilan KPR sehingga metode ini belum sepenuhnya dapat menjawab kebutuhan mereka.
3. Dampak dari Kemajuan Teknologi
Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kemajuan digital kini mempermudah pengajuan pinjaman, termasuk pengajuan pinjaman melalui aplikasi fintech dan layanan paylater yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan tatap muka.
Namun, kemudahan ini belum diimbangi literasi finansial yang cukup sehingga berisiko mendorong Gen Z berhutang untuk memenuhi keinginan sesaat dan menimbulkan siklus hutang yang berbahaya.
Kemajuan teknologi digital ini juga bisa dilihat pada penggunaan aplikasi belanja online, pesan tiket, dan pengiriman makanan yang memudahkan masyarakat mengakses e-commerce dan promosi besar-besaran.
Transaksi memang menjadi lebih mudah, namun kebiasaan ini bisa meningkatkan kecenderungan belanja impulsif. Maka dari itu, disarankan untuk lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi agar pengelolaan keuangan tetap sehat.
4. Persaingan di Dunia Kerja
Generasi Z menghadapi persaingan ketat di pasar kerja. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2022 tercatat 937.176 pencari kerja di Indonesia sehingga membuat persaingan semakin sengit. Di sisi lain, Upah Minimum Regional (UMR) sering kali tidak sebanding dengan harga rumah.
Di beberapa daerah, UMP bahkan hanya setengah dari harga rumah termurah sehingga memperberat Gen Z mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan yang cukup untuk membeli rumah.
5. Belum Terpikirkan Memiliki Rumah
Kebanyakan Gen Z mengaku belum memerlukan rumah, sementara milenial menyatakan belum terpikir untuk memilikinya saat ini.
Selain itu, alasan lain yang mendasari minat rendah atau ketidakmampuan generasi muda membeli rumah adalah kenaikan harga properti setiap tahun dan faktor keuangan lainnya.
Team Redaksi Rumahkulaku